Notification

×

Iklan

Iklan

Tingkatkan Potensi Desa, Kunjungan Kerja BUMDes Panumbang Sejahtera ke BUMDes Alamindah Bandung

Kamis 14 2026 | 14 Mei WIB Last Updated 2026-05-14T11:38:20Z

 


BANYUMAS - Dalam upaya memperkuat tata kelola usaha dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, BUMDes Bersama Panumbang Sejahtera yang tergabung dalam Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD) Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, melaksanakan kegiatan Studi Banding Peningkatan Kapasitas Kelembagaan. Kegiatan ini dilangsungkan secara resmi di Desa Alamindah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, yang dikenal sebagai salah satu desa dengan pengelolaan BUMDes paling maju dan inovatif di Jawa Barat. Kamis, (14 Mei 2026).

 

Rombongan yang berangkat dari Banyumas ini menempuh perjalanan panjang selama kurang lebih 9 jam, berangkat sejak pukul 21.00 WIB malam sebelumnya. Meskipun perjalanan cukup melelahkan, semangat seluruh peserta tak luntur. Rombongan terdiri dari 19 Kepala Desa, 19 Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD), staf Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Banyumas, pendamping desa, serta perwakilan pengurus BUMDes Bersama Panumbang Sejahtera, semuanya hadir dengan niat tulus untuk menggali pengalaman terbaik yang bisa diterapkan di daerah asalnya.


Berbagi Cerita: Tantangan dan Perjalanan Mengurus BUMDes

 

Setelah disambut hangat oleh jajaran pengurus Desa Alamindah dan BUMDes setempat, Direktur BUMDes Alamindah, Wendy Ansyah S.Par, membuka sesi dengan berbagi kisah yang jujur dan menginspirasi. Ia menegaskan bahwa kesuksesan yang terlihat hari ini tidak diraih dengan cara yang mudah.

 


“Tapi percayalah, BUMDes itu tantangannya ternyata luar biasa berat. Rasanya sama beratnya, atau bahkan terasa sangat berbeda tantangannya. Kalau menurut saya pribadi, di sini rasanya memang cukup menantang banget untuk mengurus dan memajukan BUMDes ini,” ujar Wendy dengan nada apa adanya.

 

Ia menjelaskan bahwa perjalanannya mengelola lembaga ini tidak instan. Sebelum menjabat sebagai Direktur, Wendy telah mengurus Desa Wisata Alamindah sejak tahun 2016, dan baru dipercaya memimpin BUMDes selama satu tahun terakhir. Menelisik sejarah panjangnya, Desa Wisata Alamindah bermula dari program PNPM Mandiri dan resmi berdiri pada 2011, sedangkan BUMDesnya sendiri sudah ada sejak 2010 namun baru memiliki pengesahan akta dan SK resmi pada 2016.


Empat Pilar Usaha yang Menghidupi Desa

 

Kunci keberhasilan BUMDes Alamindah terletak pada pengembangan empat unit usaha utama yang disesuaikan dengan potensi alam daerahnya. Sebagai desa pegunungan yang dikelilingi udara sejuk, 90 persen warganya adalah petani yang tidak menanam padi, melainkan mengandalkan kebun sayuran dan buah stroberi.

 

- Unit Pertanian dan Desa Wisata: Hasil panen melimpah hingga mencapai 20 ton sayuran per hari saat musim kemarau, dan panen stroberi yang terus bertambah. Prestasinya pun membanggakan: Desa Alamindah baru saja lolos mewakili Indonesia dalam ajang internasional yang akan digelar Juli mendatang. Pada 2023, omzet dari sektor ini sempat menembus Rp1,7 Miliar.

- Unit Pasar Selasa: Pasar tradisional yang hanya buka seminggu sekali ini diikuti 200 pedagang dan menyumbang pemasukan sekitar Rp12 Juta per bulan.

- Unit Air Bersih: Warisan program PNPM Mandiri yang kini melayani 1.400 kepala keluarga, dengan pendapatan Rp15–20 Juta per bulan, namun manfaatnya sangat terasa bagi warga.

- Unit Peternakan Ayam Petelur: Usaha terbaru bermodal bantuan ketahanan pangan, dengan tingkat kesehatan ternak 90 persen dan panen rutin 1.000 butir telur setiap hari.

 

Hingga tahun 2026 ini, omzet keseluruhan BUMDes Alamindah telah mencapai Rp1,2 Miliar, dengan kontribusi Pendapatan Asli Desa (PAD) yang tembus lebih dari Rp245 Juta. “Memang PAD-nya masih terbilang kecil dibanding potensi, tapi ini bukti nyata bahwa usaha yang sungguh-sungguh pasti berbuah hasil,” tambah Wendy.

 

Ia juga menjelaskan bahwa keberhasilan ini tidak diraih sendirian, melainkan berkat sistem kerja yang rapi: ada Dewan Penasihat yang dipimpin Kepala Desa, Dewan Pengawas dari unsur BPD, dan tim pelaksana yang solid.

 

Semangat Belajar dan Kesamaan Potensi

 

Dalam sambutannya, Camat Sumbang, Hermawan Novianto S.H., M.H., menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya atas keterbukaan dan keramahan tuan rumah. Ia melihat banyak kesamaan potensi antara kedua wilayah, yang sama-sama berada di kawasan pegunungan: “Di sini ada Gunung Patuha, sedangkan di Kecamatan Sumbang kita memiliki Gunung Slamet. Kondisi alamnya mirip, sehingga apa yang diterapkan di sini sangat relevan untuk kita tiru dan sesuaikan.”

 

Ia menaruh perhatian khusus pada inovasi pendanaan yang dilakukan, seperti pemanfaatan dana CSR sebagai sumber modal tambahan, yang menjadi pelajaran berharga bagi rombongannya.

 

“Prinsip kami datang ke sini sederhana saja: Amatilah yang baik, tirulah cara kerjanya, lalu modifikasi agar pas dengan kondisi desa kami masing-masing. Kami ingin membawa pulang ilmu ini untuk memajukan BUMDes Bersama Panumbang Sejahtera, meningkatkan pendapatan desa, dan akhirnya menyejahterakan warga,” tegasnya.


Penutup: Silaturahmi yang Membawa Berkah

 

Kegiatan ditutup dengan sesi diskusi santai dan tukar pengalaman, tanpa batasan hirarki. Direktur BUMDes Alamindah membuka ruang seluas-luasnya untuk menjawab pertanyaan dan berbagi rahasia pengelolaan.

 

Sebagai tanda harapan, kedua belah pihak sepakat untuk menjalin komunikasi berkelanjutan pasca kunjungan ini, berbagi informasi melalui media sosial dan pertemuan lanjutan. Meskipun perjalanan pulang masih menanti, hati seluruh rombongan terasa ringan dan penuh semangat, membawa pulang tidak hanya kenangan indah, tetapi juga resep sukses yang diharapkan bisa menumbuhkan kemajuan serupa di tanah kelahiran mereka.

 

Studi banding ini membuktikan bahwa kemajuan desa tidak tercipta secara instan, melainkan lewat kerja keras, kebersamaan, dan keberanian untuk terus belajar dari yang lebih baik. Semoga langkah ini menjadi awal baru bagi kebangkitan ekonomi desa-desa di Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas.

×
Berita Terbaru Update