Notification

×

Iklan

Iklan

Dinas Pendidikan kabupaten Banyumas Tangani Serius ATS

Sabtu 11 2026 | 11 April WIB Last Updated 2026-04-11T00:42:49Z


BANYUMAS– Pemerintah Kabupaten Banyumas melalui Dinas Pendidikan semakin serius menekan angka Anak Tidak Sekolah (ATS). Berdasarkan data awal dalam Dapodik, tercatat sekitar 15.000 anak terindikasi ATS.


Plt Kepala Dinas Pendidikan Banyumas Amrin Maruf menegaskan, angka tersebut menjadi perhatian serius Pemkab. Program Trilas yang menjadi prioritas Bupati Banyumas ditargetkan benar-benar menuntaskan persoalan ATS.


“Angka ini perhatian serius kami. Program Trilas dari Pak Bupati harus sukses. Intinya semua anak Banyumas harus kembali sekolah atau minimal punya ijazah,” kata Amrin.


Data Dapodik Tidak Sepenuhnya Akurat


Dinas Pendidikan membentuk tim khusus penanganan ATS di tingkat kabupaten. Data Dapodik kemudian diturunkan ke kecamatan untuk diverifikasi langsung di lapangan.


Hasilnya, banyak data yang harus disaring ulang. Di Kecamatan Tambak, dari sekitar 400 anak yang tercatat ATS, setelah diverifikasi ternyata hanya 170 anak yang benar-benar ATS. Bahkan, 120 anak di antaranya terkonsentrasi di Desa Watuagung.


“Dari situ kami bisa fokus. Penanganan jadi lebih tepat sasaran,” ujar Amrin.


Jemput Bola: Guru Datang ke Lokasi


Pemkab Banyumas tidak ingin menunggu anak-anak kembali ke sekolah. Strategi yang dipakai adalah jemput bola, dengan tutor atau guru datang langsung ke lokasi anak-anak yang putus sekolah.


Amrin menyebut pendekatan ini sebagai “Perang ATS.”


“Masalah utama ATS itu jarak sekolah jauh dan ekonomi. Anak-anak banyak membantu orang tua. Makanya guru atau tutor yang datang langsung ke lokasi,” jelasnya.


Strategi ini dianggap lebih efektif untuk wilayah terpencil yang akses pendidikannya masih terbatas.


Gandeng PKBM, Sekolah Swasta, TNI-Polri


Penanganan ATS juga melibatkan banyak pihak. Di Tambak, Pemkab menggandeng PKBM dan SMP PGRI untuk menangani anak-anak ATS melalui kelas jauh dan sistem belajar fleksibel.


TNI-Polri turut dilibatkan untuk membantu pendataan dan pelaporan. Selain itu, organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah juga diajak memperkuat jaringan pendidikan nonformal.


“Targetnya setiap kecamatan minimal punya satu PKBM. Proses perizinan sedang kami dorong,” kata Amrin.


Tidak Hanya Anak, Remaja hingga Warga Dewasa Ikut Disasar


Program ini tidak hanya menyasar anak usia sekolah, tetapi juga remaja dan warga dewasa yang belum memiliki ijazah. Bahkan, warga binaan di lembaga pemasyarakatan juga diberi akses pendidikan.


“Prinsipnya semua harus punya ijazah, minimal setara SMP atau SMA,” tegas Amrin.


Dorong Lanjut Kuliah, Siapkan Beasiswa


Pemkab Banyumas juga mendorong peningkatan partisipasi pendidikan tinggi. Beasiswa dan kerja sama dengan kampus seperti Unsoed dan UIN Saizu disiapkan untuk mendukung masyarakat melanjutkan pendidikan.


“Kami dorong mereka lanjut kuliah, termasuk lewat kelas jauh atau non-klasikal,” pungkasnya.


Dipetakan Sampai RT/RW


Program Trilas dilakukan bertahap di seluruh kecamatan. Data ATS dipetakan hingga tingkat RT/RW agar penanganan lebih presisi dan tidak ada anak yang luput dari perhatian.


“Ini kerja besar. Tapi dengan strategi yang tepat, kami optimistis angka ATS di Banyumas bisa ditekan signifikan,” tutup Amrin.

×
Berita Terbaru Update